Catatan dari Gang Palen Sawahan. OS 16

Catatan dari Gang Palen Sawahan. OS 16

Oleh: Kang Tijany

Tulisan ini dirangkai untuk menyusun sekilas temuan-temuan inspiratif yang saya peroleh dari pengalaman mengikuti acara ObrolanSantri malam Minggu kemarin (2/4/2016). Maka jangan heran jika tulisan ini hanya sekilas saja menceritakan jalannya diskusi itu.

Meski dikemas seperti diskusi, jagongan yang digelar setelah burdahan ini banyak diselingi guyon dan tawa-tawa liar. Pesertanya seolah terbagi menjadi dua generasi beda usia, yang muda dan yang-setengah tua. Meski begitu, tidak ada kesan senior-yunior disana. Dan setiap peserta tampak setara, memiliki kesempatan yang sama untuk mengutarakan pendapatnya.

Yang bisa saya garis bawahi adalah bahwa suatu media massa memproduksi berita tidak lagi berdasar pada pentingnya suatu fakta diberitakan. Tidak juga untuk sekadar menginformasikan kepada masyarakat hal dan perihal yang bisa diberitakan. Tetapi lebih ke seberapa luas potensi berita itu akan dibaca oleh pembaca.

Semakin luas masyarakat mengakses suatu media, semakin banyak pihak yang ingin menampilkan-diri di media tersebut, baik dalam bentuk kampanye politik, bujukan ideologis, ataupun produk dan komoditas. Perspektif ini terinspirasi dari pendapat Kang Tamimi, yang berpendapat bahwa politik media terkait dengan industri media.

Di satu sisi, situasi demikian mendorong industri media makin berkembang secara dinamis. Di sisi lain, pemberitaan yang dibuat oleh suatu media menjadi tunduk pada mekanisme Pasar.

Dengan demikian, kita perlu melengkapi diri dengan “cara membaca berita” yang tepat karena ketika mengakses media, posisi kita seperti halnya berada di tengah “Pasar”.

Di “pasar informasi” itulah, kita mendapati bahwa pemberitaan dibuat oleh suatu media dengan teknik-teknik untuk “merekayasa bahasa” dalam rangka memunculkan opini-opini tertentu, yang mendistorsi fakta.

Misalnya, di sebuah foto tampak sebuah pesawat domestik parkir di landasan dan di sekitarnya ada beberapa personel militer. Di bawah foto diterangkan “militer Israel mengamankan pesawat milik maskapai penerbangan Mesir”. Di foto lain, tampak gambar serupa, dan diberitakan bahwa pesawat xxxx diturunkan paksa oleh angkatan udara negara bla bla bla. Inilah contoh bagaimana rekayasa bahasa beroperasi dan memiliki konotasi yang berbeda.

Ada banyak modus operandi yang dimainkan oleh pihak-pihak dalam jejaring mekanisme jual-beli informasi. Ini terjadi secara halus, tak kasat mata, dan bahkan terlalu samar untuk disadari. Berapa pengorbanan yang diberikan berupa melemahnya hati nurani, misalnya, hanya untuk mendapatkan konsepsi tertentu dari–untuk sekadar menyebut contoh: wacana liberalis tentang isu Palestina?

Artinya, di antara hal penting yang perlu diantisipasi adalah permainan bahasa yang potensial membiaskan fakta dan menggiring pembaca ke suatu opini yang tidak semestinya diterima.

Ada banyak wacana yang mendasari dan melatari berbagai berita yang justeru menyembunyikan relasi sosial-politik yang timpang, baik antar kelompok dan kelas sosial; yang mengukuhkan budaya hegemonik tertentu, ataupun untuk menjustifikasi keunggulan suatu bangsa terhadap bangsa yang lain.

Ini tampak dari pemberitaan yang sempat muncul saat momen Pilpres di negeri kita beberapa waktu yang lalu. Salah satu capres menggunakan jasa konsultan dari Amerika untuk memuluskan kampanye-nya di dunia cyber. Konsultan tersebut memiliki peran besar di balik kemenangan Presiden Barrack Obama.

Ini adalah contoh riil bagaimana melalui suatu pemberitaan, ada gagasan yang dikukuhkan secara samar-samar bahwa legitimasi dan dukungan Amerika menentukan berhasil atau tidaknya seseorang memenangi pilpres di Republik ini.

Disinilah kita menjadi was-was. Apakah struktur informasi di dalam kepala kita, atau media-media yang simpang-siur berseliweran di depan kita, adalah bagian dari agen-agen pro status-quo? Karena itu, kita tidak cukup hanya dengan sikap “pasang kuda-kuda” untuk mengantisipasi dan mewaspadai segala macam bentuk pemberitaan. Tetapi juga harus lebih berani¬†bergerak untuk meringkus anasir-anasir teroristik totaliter yang membombardir pikiran kita setiap harinya.

Inilah inspirasi yang muncul dari ngopi bareng ObrolanSantri kemarin yang bisa saya tuliskan.

Wallahu a’lam…

Leave a Response